Pada suatu
kota di pulau jawa ada seorang mahasiswa yang bernama Irvin Prasetya.
Universitas Muhammadiyah Prof.Dr HAMKA adalah pilihan tempat dia melanjutkan
pendidikannya untuk mengembangkan diri dan mendapatkan gelar sarjanan S1. Dalam
kesehariannya dia disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, dan juga mengikuti
organisasi kampus yaitu BEM FEB walaupun belum resmi menjabat. Sebelumnya dia
juga pernah mengikuti organisasi kampus yaitu Himpunan Mahasiswa yang
diamanahkan sebagai Ketua Bidang KOMINFO. Saat mengikuti organisasi dia
diamanahkan untuk memimpin bidang KOMINFO tetapi apakah dia menguasai aplikasi
editing ? tentu tidak. Berawal dari nekat menjadi sebuah tekad dia berusaha mempelajari
satu persatu aplikasi editing dan akhirnya dia bisa mengoprasikan aplikasi
tersebut. Dalam Himpunan, disaat ada acara ataupun program kerja dia selalu menjadi
divisi HPD (Humas, Publikasi dan Dokumentasi) dimana pekerjaannya tidak
jauh-jauh dari kamera, video, membuat sertifikat, banner, pamphlet dan
lain-lain. Dengan selalu ditempatkan di divisi HPD pada setiap kegiatan secara
tidak langsung Irvin pun bisa mengoprasikan dan menggunakan aplikasi editing
video dan photo dengan baik.
Manajemen
adalah jurusan yang ia pilih untuk menempuh kuliahnya, tentu dia sangat
tertarik dengan sesuatu yang berbau manajemen. Apa salah satunya ? saham. Ya betul
saham adalah surat berharga sebagai tanda kepemilikan perusahaan tertentu yang
dapat diperjualbelikan. High risk high return inilah yang membuat Irvin penasaran.
Setelah mempelajari system bagaimana jual beli saham dan memahami cara-cara
kapan harus beli dan jual, diapun memberanikan diri untuk terjun ke dunia
saham. Di satu mingg pertama dia berhasil mengumpulkan keuntungan hampir 40% dari
modal yang dia tanam. Maka dari itu dia terus mempelajari saham ini, tetapi
suatu ketika ada kondisi tertentu yang tidak bisa dijelaskan di tulisan ini ia
pun memilih menginvestkan semua dananya ke pada salah satu Bank di daerah Banten.
Diam bukan
berarti tidak tahu, diam yaitu sedang menganalisis sesuatu. Begitulah sifat Irvin
ini yang lebih banyak diam dibanding berbicara. Menurutnya bicara ada waktunya dan
disaat bicara harus memperhatikan pokok pembahasannya. “Lebih baik sedikit
berbicara tetapi bermakna dibandingkan banyak bicara tetapi kosong isinya” kurang
lebih itu lah pemikiran yang dia pegang.
No comments:
Post a Comment