Wednesday, October 23, 2019

Pengalaman Bekerja di Perusahaan Startup

Saya bernama Irvin Prasetya dengan Pendidikan akhir S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr HAMHKA. Saat ini saya bekerja di salah satu start up terbesar di Indonesia yaitu Traveloka dengan posisi jabatan Product Manager. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya selama bekerja di Bukalapak hingga bisa menduduki posisi Product Manager.
            Berawal dari mengenal start up yang berbasiskan Information Technology (IT), memahami beberapa skill untuk memecahkan masalah hingga berinteraksi dengan karyawan lain secara baik dan benar. Pertama dari tahap wawancara saya diminta untuk bisa aktif dan pasif berbahasa inggris, memecahkan masalah dengan solusi terbaik dan mempresentasikan suatu produk dimana kita harus bisa membuat produk itu menarik dengan apa yang sudah kita presentasikan. Setelah dinyatakan lulus saya pun bekerja di jabatan product executive dengan gaji 7 juta perbulan.
            Dalam keseharian bekerja di Bukalapak disana tidak ada yang namanya jam resmi (kecuali untuk tim pelayanan pelanggan). Setiap karyawan bebas untuk masuk dan pulang kantor jam berapapun, walaupun di dalam tim ada beberapa yang memberi batas waktu paling telat masuk kantor. Pada saat jam makan siang, makanan disediakan oleh kantor berupa boks catering. Biasanya disetiap lantai akan diberikan variasi makanan yang berbeda-beda dan digilir setiap lantai, agar tidak membosankan dengan menunya. Di kantor Traveloka menganut system kantor terbuka dimana antara meja karyawan dengan karyawan lainnya tidak di berikan pembatas, dengan tujuan karyawan bisa berinteraksi dengan bebas ketika suntuk dengan pekerjaannya, walaupun didalam system ini mempunyai kelemahan yaitu terciptanya suasana kerja yang tidak kondusif.
            Desain didalam kantor pun penuh dengan hiasan-hiasan futuristic dan juga ada fasilitas penunjang. Di beberapa lantai juga terdapat area istirahat dimana para karyawan bisa bermain pingpong, PS4, ataupun board games dengan catatan tidak menggangu karyawan lain, tidak lalai dengan tanggung jawabnya dan lain-lain. Dalam beberapa bulan terdapat Talk Show dengan pembicara para ahli dibidangnya yang membahas pengetahuan sesuai dengan divisi, acara ini rutin selenggarakan bertujuan untuk memberikan pengetahuan tambahan kepada karyawan lain.
            Dengan mengemban jabatan product executive saya pun dituntut untuk bisa memperkenalkan dan memasarkan produk kepada pelanggan, dalam hal ini saya disuruh untuk bisa memberikan kesan yang baik terhadap barang yang saya pasarkan dan untuk menciptakannya trust pada pelanggan. mempelajari dan menguasai produk dimana saya harus mengetahui secara menyeluruh dari dari produk yang saya pasarkan. Mempersiapkan presentasi produk kepada pelanggan tentu saja saya dituntut untuk bisa membangun rasa percaya konsumen kepada produk yang saya presentasikan. Memelihara hubungan baik dengan pelanggan dengan tujuan memnumbuhkan rasa loyal terhadap perusahaan saya agar terus membeli produk-produk di Bukalapak, dan masih banyak lainnya tanggung jawab saya dengan tujuan membangun image baik terhadap produk-produk di Bukalapak.
           
     3 Tahun merintis karir sebagai product executive akhirnya saya naik jabatan sebagai product manager.  Dijabatan sekarang ini tanggung jawab pun semakin berat antara lain melakukan riset produk, biasanya riset ini bermacam-macam biasanya melakukan riset yang sedang menjadi tren dan juga perlu melakukan analisis produk Kompetitor. Ini berguna untuk melihat apa saja kekurangan produk kita dan bagaimana cara mengatasinya. Mengatur strategi produk, hal ini menuntut kita untuk cakap dalam mengomunikasikan ide mereka di depan perusahaan. Kita pun harus bisa untuk membagi skema kerja dengan strategi yang telah disusun untuk mewujudkan produk yang berkualitas.
            Begitulah pengalaman menjadi karyawan di perusahaan startup yang berbasis Information Technology. Pada akhirnya adalah bekerja di perusahaan startup itu sangat menyenangkan, dunianya dinamis dan akan terus semangat karena diisi dengan mayoritas anak muda yang jadi karyawannya. Jam kerja yang fleksibel, makan siang yang disediakan kantor, tempat kerja yang terkesan futuristic menjadi penunjang mengapa bekerja di perusahaan startup itu nyaman.
           
           

Tak Kenal maka Tak Tahu


Pada suatu kota di pulau jawa ada seorang mahasiswa yang bernama Irvin Prasetya. Universitas Muhammadiyah Prof.Dr HAMKA adalah pilihan tempat dia melanjutkan pendidikannya untuk mengembangkan diri dan mendapatkan gelar sarjanan S1. Dalam kesehariannya dia disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, dan juga mengikuti organisasi kampus yaitu BEM FEB walaupun belum resmi menjabat. Sebelumnya dia juga pernah mengikuti organisasi kampus yaitu Himpunan Mahasiswa yang diamanahkan sebagai Ketua Bidang KOMINFO. Saat mengikuti organisasi dia diamanahkan untuk memimpin bidang KOMINFO tetapi apakah dia menguasai aplikasi editing ? tentu tidak. Berawal dari nekat menjadi sebuah tekad dia berusaha mempelajari satu persatu aplikasi editing dan akhirnya dia bisa mengoprasikan aplikasi tersebut. Dalam Himpunan, disaat ada acara ataupun program kerja dia selalu menjadi divisi HPD (Humas, Publikasi dan Dokumentasi) dimana pekerjaannya tidak jauh-jauh dari kamera, video, membuat sertifikat, banner, pamphlet dan lain-lain. Dengan selalu ditempatkan di divisi HPD pada setiap kegiatan secara tidak langsung Irvin pun bisa mengoprasikan dan menggunakan aplikasi editing video dan photo dengan baik.

Manajemen adalah jurusan yang ia pilih untuk menempuh kuliahnya, tentu dia sangat tertarik dengan sesuatu yang berbau manajemen. Apa salah satunya ? saham. Ya betul saham adalah surat berharga sebagai tanda kepemilikan perusahaan tertentu yang dapat diperjualbelikan. High risk high return inilah yang membuat Irvin penasaran. Setelah mempelajari system bagaimana jual beli saham dan memahami cara-cara kapan harus beli dan jual, diapun memberanikan diri untuk terjun ke dunia saham. Di satu mingg pertama dia berhasil mengumpulkan keuntungan hampir 40% dari modal yang dia tanam. Maka dari itu dia terus mempelajari saham ini, tetapi suatu ketika ada kondisi tertentu yang tidak bisa dijelaskan di tulisan ini ia pun memilih menginvestkan semua dananya ke pada salah satu Bank di daerah Banten.

Diam bukan berarti tidak tahu, diam yaitu sedang menganalisis sesuatu. Begitulah sifat Irvin ini yang lebih banyak diam dibanding berbicara. Menurutnya bicara ada waktunya dan disaat bicara harus memperhatikan pokok pembahasannya. “Lebih baik sedikit berbicara tetapi bermakna dibandingkan banyak bicara tetapi kosong isinya” kurang lebih itu lah pemikiran yang dia pegang.